AYAT KESEHATAN JIWA0 komentar
Di dalam Al-Qur’an sebagai dasar dan sumber
ajaran islam banyak ditemui ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan
kebahagiaan jiwa sebagai hal yang prinsipil dalam kesehatan mental. Ayat-ayat
tersebut adalah:
لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ
Artinya: Sungguh Allah telah memberi karunia
kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang
rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan
al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (keadaan nabi) itu, mereka adalah
benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. 3: 164)
Dalam hadits Rasulullah dijelaskan juga yaitu:
Artinya: Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah
bertugas untuk menyempurnakan kemulian Akhlak manusia.
Dengan kejelasan ayat Al-Qur’an dan hadits
diatas dapat ditegaskan bahwa kesehatan mental (shihiyat al nafs) dalam arti yang luas adalah
tujuan dari risalah Nabi Muhammad SAW diangkat jadi rasul Allah SWT, karena
asas, cirri, karakteristik dan sifat dari orang yang bermental itu terkandung
dalam misi dan tujuan risalahnya. Dan juga dalam hal ini al-Qur’an berfungsi
sebagai petunjuk, obat, rahmat dan mu’jizat (pengajaran) bagi kehidupan jiwa
manusia dalam menuju kebahagian dan peningkatan kualitasnya sebagai mana yang
ditegaskan dalam ayat berikut:
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf
dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(Q.S. Ali Imran: 104)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menjanjikan
kemenangan kepada orang-orang yang mengajak kepada kebaikan,menyuruh kepada
yang makruf dan mencegah kapada yang mungkar. Keimanan,katqwaan,amal
saleh,berbuat yang makruf, dan menjauhi perbuatan keji dan mungkar faktor yang
penting dalam usaha pembinaan kesehatan mental.
Artinya: Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan
ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping
keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan
bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S.
Al-Fath: 4)
Ayat di atas menerangkan bahwa Allah mensifati
diriNya bahwa Dia-lah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana yang dapat
memberikan ketenangan jiwa ke dalam hati orang yang beriman.
Artinya: Sesungguhnya Al Quran ini memberikan
petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada
orang-orang Mu´min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala
yang besar. (Q.S. Al-Isra: 9)
Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang
menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S. Al-Isra: 82)
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yunus: 57)
Berdasarkan kejelasan keterangan ayat-ayat
Al-Qur’an diatas, maka dapat dikatakan bahwa semua misi dan tujuan dari ajaran
Al-Qur’an (islam) yang berintikan kepada akidah, ibadah, syariat, akhlak dan
muamalata adalah bertujuan dan berperan bagi pembinaan dan pengembangan sumber
daya manusia yang berkualitas dan berbahagia.
Islam memiliki konsep tersendiri dan khas
tentang kesehatan mental. Pandangan islam tentang kesehatan jiwa berdasarkan
atas prinsip keagamaan dan pemikiran falsafat yang terdapat dalam ajaran-ajaran
islam.
Adapun al-Ghazali mengistilahkan
kesehatan jiwa itu dengan tazkiyat al nafs yang artinya identik dengan iman dan
takwa sebagai yang telah dijelaskan. Ia mengartikan tazkiyat al nafs itu dengan
ilmu penyakit jiwa dan sebab musababnya, serta ilmu tentang pembinaan dan
pengembangan hidup kejiwaan manusia, suatu pengertian yang identik dengan
kesehatan jiwa. Pengertian tersebut tidak terbatas pada konsepnya pada gangguan
dan penyakit kejiwaan serta perawatan dan pengobatannya, tetapi juga meliputi
pembinaan dan pengembangan jiwa manusia setinggi mungkin menuju kesehatan dan
kesempurnaannya sesuai dengan arti kata tazkiyat itu sendiri dalam pendidikan
al-Qur’an berikut:
Artinya: demi jiwa dan kesempurnaan (ciptaan)-Nya.
Allah menghilangkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang melakukan proses tazkiyah (pembinaan
takwa) dalam dirinya, sebaliknya merugilah orang-orang yang mengotori jiwa
(mengikuti hawa nafsu dalam pembinaan jiwanya) atau tadsiyat al naf s. (Q.S. Asy Syamsu: 7-10)
Dari keterangan ayat diatas dapat pula diambil
suatu pedoman bahwa tujuan dari pembinaan dan pengembangan jiwa itu dalam islam
adalah untuk mewujudkan kondisi kesehatan jiwa yang baik. (al-falah) yang
diperoleh melalui pendidikan tazkiyah atau pembinaan potensi jiwa takwa dalam
diri. Sehingga jiwa muthmainnah menyempurnakan kehidupan mental manusia, dan
inilah tujuan yang paling tinggi dari usaha pembinaan dan pengembangan
kesehatan jiwa dalam Islam yang harus dicapai oleh setiap muslim muslimah.
KISAH TIGA ORANG PENGUNI GUA DAN TAWASUL DENGAN AMAL SALEH0 komentar
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Ketika tiga orang pemuda sedang
berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah
gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar
dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka. Kemudian
sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang
pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal
tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu. Salah seorang dari
mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang
telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di
mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan
ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku
terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku. Suatu hari aku terlalu jauh
mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di
saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah
susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala
kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku
pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka
menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku
bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan
itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar
kami dapat melihat langit. Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga
mereka dapat melihat langit. Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Allah,
sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang
sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku
memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku
memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku
mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya. Ketika aku telah
berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Allah,
takutlah kepada Allah dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan
pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak
meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari
keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Allah
pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka. Yang lainnya berdoa: Ya Allah,
sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas
ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata:
Berikanlah upahku! Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas
ritel beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu
sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari
hasil padinya itu. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah
kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku! Aku pun menjawab: Hampirilah
sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! Dia berkata:
Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku! Aku pun berkata lagi
kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu
berikut penggembalanya! Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau
mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukakanlah
untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Allah membukakan celahan
yang tersisa itu. (Shahih Muslim No.4926)
Sumber
: Kumpulan Hadist dari Shahih Muslim
MAYORITAS AHLI SURGA0 komentar
“Mayoritas ahli surga adalah dari
orang-orang miskin dan mayoritas ahli neraka dari kaum wanita”
1.
Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia
berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Aku berdiri di depan pintu surga, tiba-tiba aku melihat mayoritas yang memasukinya adalah orang-orang miskin dan aku juga melihat para penguasa (di dunia) dalam keadaan tertahan, kecuali penghuni neraka yang telah diperintahkan kepada mereka untuk memasuki neraka. Dan aku juga berdiri di depan pintu neraka, ternyata mayoritas yang memasukinya adalah dari kaum wanita. (Shahih Muslim No.4919)
2.
Hadis riwayat Imran bin Hushain ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya yang paling sedikit menempati surga adalah kaum wanita. (Shahih Muslim No.4921)
3.
Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia
berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun setelahku yang lebih membahayakan kaum lelaki daripada kaum wanita. (Shahih Muslim No.4923)
Sumber : Kumpulan Hadist dari Shahih Muslim
BERTEMU DENGAN ALLAH0 komentar
“Barang
siapa yang suka bertemu Allah, maka Allah akan suka bertemu dengannya dan
barang siapa yang tidak suka bertemu Allah, maka allah tidak akan suka bertemu
dengannya”
1.
Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah akan menyukai pertemuan dengannya, dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4844)
2.
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah akan menyukai pertemuan dengannya. Dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. Aku bertanya: Wahai baginda, bagaimana dengan kebencian terhadap kematian karena semua kita membenci kematian? Beliau menjawab: Bukan begitu, tetapi seorang mukmin apabila diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridaan dan surga-Nya, maka dia akan senang bertemu dengan Allah dan Allah akan senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir apabila diberitahukan tentang siksaan serta kemurkaan Allah, maka dia akan membenci pertemuan dengan Allah sehingga Allah pun akan membenci pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4845)
3.
Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah menyukai pertemuan dengannya. Dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4848) Sumber : Kumpulan Hadist dari Shahih Muslim FILSAFAT ISLAM0 komentar
Filsafat
Islam merupakan filsafat
yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara
filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim
klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus,
namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam.
Kedua,
Islam adalah agama tauhid.
Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam
justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak
dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia
dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi
sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
Memahami
filsafat Islam tidak bisa dengan menggunakan cara yang sederhana. Menentukan
difinisinya saja masih terjadi silang pendapat. Ada pendapat yang menyatakan
bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang lahir dari pemikiran orang Islam.
Lalu dipertanyakan, mengapa tidak disebut filsafat muslim?.
Tidak
hanya tujuan utamanya, yaitu memperoleh kebijakan yang bermuara pada metafisika
(ilahiyat) yang searah dengan tujuan utama filsafat Yunani, demikian juga
bahan-bahan atau ide-idenya juga diambil dari Yunani, seperti kata Fazlur
Rahman. Yang membedakannya adalah baju aktualisasinya yang bermerek Islam.
Kearifan yang diupayakan adalah kualitas keagamaan melalui penerapan struktur
filsafat Yunani pada prinsip-prinsip Islam. Jelasnya menurut Fazlur Rahman,
filsafat Islam adalah filsafat yang memberi gema Islam ke dalam filsafat,
khususnya filsafat
Yunani.
Tetapi bagi Seyyed Hoessein Nasr filsafat Islam justru filsafat yang bersumber
dari sumber dasar Islam yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Dalam prakteknya, filsafat
Islam menjabarkan prinsip-prinsip dan menimba inspirasi dari kedua sumber
tersebut sehingga melahirkan corak filsafat yang prinsip berbeda, walaupun pada
tataran permukaan banyak persamaan degan filsafat Yunani sebagai akibat dari
proses inklusivitas dan adaptasi kreatif. Karena bertumpun pada kedua sumber
yang berupa wahyu itu, maka H. Corbin menyebut filsafat Islam sebagai filsafat
Kenabian. Dengan demikian, filsafat Islam tidak bisa disederhanakan dengan
sekedar filsafat yang lahir dan dikelola dalam dunia Islam.
Mencari
kearifan merupakan makna dasar istilah filsafat(philo:cinta dan
shophia:kearifan), yang sejatinya ada sejak zaman purba, setidaknya al-Farabi
dalam kitabnya Tahshil al-Saadah mencatat orang-orang Kaldan (kawasan
Misopotamia) adalah pemilik purba tradisi filsafat yang diwariskan oleh
orang-orang Mesir lalu turun ke Yunani. Walaupun demikian, tradisi India dan
China juga tak bisa dikesampingkan karena banya tidak punya kaitan langsung
dengan filsafat Yunani yang biasanya ditasbihkan sebagai tanaj tumpah darah
filsafat.
Ditangan
orang Yunani, tradisi mencari kearifan dilakukan secara lebih intensif dengan
metode yang semakin teratur dan sistematis serta berusaha melepaskan diri dari
berbagai mitos. Usaha ini lebih bertumpu pada logos atau usaha rasional. Tapi
juga tidak mengesampingkan, pengembaraan filosofis itu dengan usaha intuitif.
Sejak zaman Yunani pun, metode yang digunakan tidak tunggal dan tidak hanya
bertumpu pada kemampuan olah rasional saja tetapi juga menggunakan metode
intuitif. Karena pendekatan metode intuitif dengan penyucian jiwa juga dikenal.
Plato dan Plotinus dengan madzhab Platonisme dan Neo-Platonisme
diidentifikasikan sebagai aliran ini. Sebagai conterpart Aristotelianisme atau
madzahab Peripatetik.
Hanya
saja, dalam perkembangan modernnya di tangan Barat, filsafat dipersempit pada
sekedar usaha rasioal dan pendekatan intuitif diidentifikasikan dengan mistik,
bahkan okultis. Pemiskinan yang cenderung bernaung di bawah dominasi
positivisme sains atau reduksi pada logika dan linguistik semata itu dinilai
membuat filsafat penyimpang dari tujuan asal yaitu cinta
kearifan
(philo-shophia) ke benci kearifan (miso-shophia).
Dalam
pandangan para filosof muslim filsafat tetap sebagaimana makna dasarnya yaitu
cintan kearifan. Ia bertujuan mencari hakikat segala
yang ada (wujud), tanpa harus dibatasi pada usaha rasional, tetapi lebih
menekankan pada penggunaan segala sumber pengetahuan secara integratif, mulai
dari potensi rasional, intuisi dan wahyu. Corak filosof muslim sangatlah
beragam, seperti figur utama Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd yang menganut madzhab
Peripetatik, figur Suhrawardi dengan madzhab Iluminasionistik (Israqi), figur
Mulla Sadra dengan Hikmah Mutaaliyah-nya dan Ibnu Arabi dengan ahdat
al-Wujud-nya, walaupun menurut William Chittick, Ibnu Arabi tidak pernah
menyebut istilah itu, sedangkan Al-Ghazali dengan corak religius-ortodok yang
bermuara ke sufistik.
Dalam
Islam, filsafat dengan berbagai aliran dan coraknya tetap dalam semangat manka
aslinya cinta kearifan. Dalam Islam sendiri terdapat istilah hikmah yang
diidentifikasikan sebagai filsafat. Karena filsafat di Barat modern telah
mempersempit arti pada sekedar usaha rasional, beberapa peneliti lebih suka
menerjemahkan hikmah dengan theosophy dari pada philosophy untuk menghindari
kesalahan makna. Dalam hikmah, kebenaran yang dicari akan berpuncak pada
kebenaran tertinggi, yakni Tuhan sebagai Yang Maha Benar (AL-Haqq). Itulah
puncak pencarian dan itulah puncak kebenaran sehingga metafisika disebut
al-falsafat al-ula sebagaimana menjadi salah satu buku al-Kindi, Fi alFalsafat
al-Ula, Filsafat, hikmah dan Haqiqat di satu sisi dan di sisi lain failasuf,
hakim dan al-Haqq adalag kesatuan yang tak dapat dipisahkan untuk membangun
pengertian yang menyeluruh tentang filsafat Islam dan menghindari kesalahfahaman.
Kearifan
yang dicari itu tidak hanya dalam tataran konseptual. Seperti ditegaskan
al-Kindi dalam Fi al-Falsafat al-Ula, bahwa filsafat memiliki tujuan teoretis
yaitu kebenaran dan tujuan praktis yaitu prilakuyang sesuai dengan kebenaran
yang diperoleh. Maka kearifan yang dimaksud dalam filsafat Islam bukan sekedar
pada ranah teoretis tapi juga prilaku dan pola hidup sebagai cermin utuh
pribadi seorang hakim (orang yang arif/bijak). Keutuhan kearifan dari difinisi
al-Kindi di atas juga diterima oleh al- Farabi dengan membagi dasarnya menjadi
pada sesuatu yang bersifat keyakinan (al-yaqinniyyah) dan dugaan (al-madznunah)
sekaligus menegaskan bahwa filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan. Dalam
Uyun al-Hikmah, Ibnu Sina memberikan padangan senada, tentang filsafat atau
hikmah sebagai kesempurnaan jiwa manusia melalui tasawwur (konseptualisasi) dan
tasdiq (pembenaran) atas realitas teoretis dan praktis sesuai dengan kemampuan
manusia.
Tentu
menjadi ironis jika filsafat ditolak, ketika pengertian sebenarnya identik
dengan hikmah dan para filosof telah membuktikan keutuhan kearifan antara teori
dan praktek. Ibnu Sina, yang dinobatkan sebagai tokoh terbesar Peripatetik
muslim, selalu sholat setiap berhadapan dengan persoalan keilmuan yang pelik.
Ia juga menampikkan gagasan hikmah al-masyriqiyyah yang searah dengan hikmah
al-israq-nya Suhrawardi. Ibnu Rusyd adalah qadhi al-qudhat, pemegang otoritas
keagamaan tertinggi di Andalusia. Apalagi Ibnu Arabi dan Suhrawardi yang memang
menekankan kejernihan batin untuk menangkap kebenaran hakiki dan realitas
metafisik. Kehidupan praktis para filosof muslim sering lepas dari perhatian,
karena hanya terfokus pada ide yang sering ditangkap secara tidak utuh. Menurut
Oliver Leaman bahwa berbagai corak filosof muslim menunjukkan kreativitas para
filosof dalam menyelesaikan berbagai persoalan mendasar dalam Islam, tetapi
tetap berada dibawah satu payung paradigma ketauhidan yang bersumber pada
Al-Quran
danhadits.
ALAT KESEHATAN0 komentar
BINGUNG NYARI ALAT KESEHATAN YANG BAGUS TAPI MURAH ?
DISINI TEMPATNYA
HUB/SmS +6285781404268
alatkesehatanc@yahoo.com
BURUAN PESAN
SHOLAT BAGI KESEHATAN ?0 komentar
Assalamualaikum Wr.
Wb.
Tahu kah mas bro dan mbak bro tentang manfaat gerakan sholat bagi kesehatan ?
Sholat fardu maupun sholat sunah. Pasti selama ini kita hanya berpikir kalau
sholat itu hanya sebagai kewajiban yang harus di laksanankan karena takut masuk
neraka.
Tapi tunggu dulu, baca dulu artikel ini biar kita lebih tahu manfaat gerakan sholat bagi kesehatan.
Berdiri
Wajibnya sholat adalah berdiri bagi yang
mampu, dengan kita berdiri dapat melatih keseimbangan tubuh dan konsentrasi
pikiran.
Takbiratul Ihram (Mengangkat Tangan Sejajar Bahu)
Pada saat kita mengangkat tangan sejajar
bahu, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya
oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau
dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian,
khususnya pada tubuh bagian atas.
Rukuk
Rukuk menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang
belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi
jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian
tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu
hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan
prostat.
|

















