|
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan
AYAT KESEHATAN JIWA0 komentar
Di dalam Al-Qur’an sebagai dasar dan sumber
ajaran islam banyak ditemui ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan
kebahagiaan jiwa sebagai hal yang prinsipil dalam kesehatan mental. Ayat-ayat
tersebut adalah:
لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ
Artinya: Sungguh Allah telah memberi karunia
kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang
rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan
al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (keadaan nabi) itu, mereka adalah
benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. 3: 164)
Dalam hadits Rasulullah dijelaskan juga yaitu:
Artinya: Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah
bertugas untuk menyempurnakan kemulian Akhlak manusia.
Dengan kejelasan ayat Al-Qur’an dan hadits
diatas dapat ditegaskan bahwa kesehatan mental (shihiyat al nafs) dalam arti yang luas adalah
tujuan dari risalah Nabi Muhammad SAW diangkat jadi rasul Allah SWT, karena
asas, cirri, karakteristik dan sifat dari orang yang bermental itu terkandung
dalam misi dan tujuan risalahnya. Dan juga dalam hal ini al-Qur’an berfungsi
sebagai petunjuk, obat, rahmat dan mu’jizat (pengajaran) bagi kehidupan jiwa
manusia dalam menuju kebahagian dan peningkatan kualitasnya sebagai mana yang
ditegaskan dalam ayat berikut:
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf
dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(Q.S. Ali Imran: 104)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menjanjikan
kemenangan kepada orang-orang yang mengajak kepada kebaikan,menyuruh kepada
yang makruf dan mencegah kapada yang mungkar. Keimanan,katqwaan,amal
saleh,berbuat yang makruf, dan menjauhi perbuatan keji dan mungkar faktor yang
penting dalam usaha pembinaan kesehatan mental.
Artinya: Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan
ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping
keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan
bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S.
Al-Fath: 4)
Ayat di atas menerangkan bahwa Allah mensifati
diriNya bahwa Dia-lah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana yang dapat
memberikan ketenangan jiwa ke dalam hati orang yang beriman.
Artinya: Sesungguhnya Al Quran ini memberikan
petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada
orang-orang Mu´min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala
yang besar. (Q.S. Al-Isra: 9)
Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang
menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S. Al-Isra: 82)
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang
berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yunus: 57)
Berdasarkan kejelasan keterangan ayat-ayat
Al-Qur’an diatas, maka dapat dikatakan bahwa semua misi dan tujuan dari ajaran
Al-Qur’an (islam) yang berintikan kepada akidah, ibadah, syariat, akhlak dan
muamalata adalah bertujuan dan berperan bagi pembinaan dan pengembangan sumber
daya manusia yang berkualitas dan berbahagia.
Islam memiliki konsep tersendiri dan khas
tentang kesehatan mental. Pandangan islam tentang kesehatan jiwa berdasarkan
atas prinsip keagamaan dan pemikiran falsafat yang terdapat dalam ajaran-ajaran
islam.
Adapun al-Ghazali mengistilahkan
kesehatan jiwa itu dengan tazkiyat al nafs yang artinya identik dengan iman dan
takwa sebagai yang telah dijelaskan. Ia mengartikan tazkiyat al nafs itu dengan
ilmu penyakit jiwa dan sebab musababnya, serta ilmu tentang pembinaan dan
pengembangan hidup kejiwaan manusia, suatu pengertian yang identik dengan
kesehatan jiwa. Pengertian tersebut tidak terbatas pada konsepnya pada gangguan
dan penyakit kejiwaan serta perawatan dan pengobatannya, tetapi juga meliputi
pembinaan dan pengembangan jiwa manusia setinggi mungkin menuju kesehatan dan
kesempurnaannya sesuai dengan arti kata tazkiyat itu sendiri dalam pendidikan
al-Qur’an berikut:
Artinya: demi jiwa dan kesempurnaan (ciptaan)-Nya.
Allah menghilangkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang melakukan proses tazkiyah (pembinaan
takwa) dalam dirinya, sebaliknya merugilah orang-orang yang mengotori jiwa
(mengikuti hawa nafsu dalam pembinaan jiwanya) atau tadsiyat al naf s. (Q.S. Asy Syamsu: 7-10)
Dari keterangan ayat diatas dapat pula diambil
suatu pedoman bahwa tujuan dari pembinaan dan pengembangan jiwa itu dalam islam
adalah untuk mewujudkan kondisi kesehatan jiwa yang baik. (al-falah) yang
diperoleh melalui pendidikan tazkiyah atau pembinaan potensi jiwa takwa dalam
diri. Sehingga jiwa muthmainnah menyempurnakan kehidupan mental manusia, dan
inilah tujuan yang paling tinggi dari usaha pembinaan dan pengembangan
kesehatan jiwa dalam Islam yang harus dicapai oleh setiap muslim muslimah.
LAPORAN PENDAHULUAN : HARGA DIRI RENDAH0 komentarA. Masalah Utama Gangguan konsep diri : harga diri rendah B. Proses Terjadinya Masalah1. Pengertian Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan. Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara : a. Situasional Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba). Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah, karena : Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perneal). Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/ sakit/ penyakit. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan. b. Kronik Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/ dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa. 2. Tanda dan Gejala Menurut Carpenito, L.J (1998 : 352); Keliat, B.A (1994 : 20) a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri. c. Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa d. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri. e. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan. f. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan. 3. Akibat Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi sosial : menarik diri, isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang maladaptive, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (DEPKES RI, 1998 : 336). Data Subyektif : a. Mengungkapkan untuk memulai hubungan/ pembicaraan b. Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain c. Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain Data Obyektif : a. Kurang spontan ketika diajak bicara b. Apatis c. Ekspresi wajah kosong d. Menurun atau tidak adanya komunikasi verbal e. Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara C. Masalah dan Data yang Perlu Dikaji
D. Pohon MasalahIsolasi sosial : menarik diri Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Koping individu tidak efektif E. Diagnosa Keperawatana. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif
HALUSINASI PENDENGARAN0 komentarI. MASALAH UTAMA Gangguan persepsi sensori: Halusinasi PendengaranII. PROSES TERJADINYA MASALAH 1. PENGERTIAN Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007). 2. Tanda dan gejala Perilaku pasien yang teramati adalah sebagai berikut a. Melirikkan mata ke kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang berbicara. b. Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang tidak sedang berbicara atau kepada benda mati seperti mebel, tembok dll. c. Terlibat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak. d. Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara. 3. Penyebab : a. Isolasi sosial menarik diri i. Pengertian Menarik diri merupakan gangguan dengan menarik diri dari orang lain yang di tandai dengan isolasi diri (menarik diri) dan perawatan diri yang kurang. ii. Penyebab 1. Perkembangan Sentuhan, perhatian, kehangatan dari keluarga yang mengakibatkan individu menyendiri, kemampuan berhubungan dengan klien tidak adekuat yang berakhir dengan menarik diri. 2. Harga diri rendah iii. Tanda dan gejala Tanda gejala menarik diri dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain 1. Aspek fisik a. Penampilan diri kurang. b. Tidur kurang. c. Keberanian kurang. 2. Aspek emosi a. Bicara tidak jelas. b. Merasa malu. c. Mudah panik. 3. Aspek sosial a. Duduk menyendiri b. Tampak melamun c. Tidak perduli lingkungan d. Menghindar dari orang lain e. Aspek intelektual f. Merasa putus asa g. Kurang percaya diri 4. Akibat a. Resiko mencederai orang lain dan diri sendiri i. Pengertian Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya maupun orang lain di sekitarnya (Town send, 1994) ii. Penyebab 1. Halusinasi 2. Delusi iii. Tanda dan gejala 1. Adanya peningkatan aktifitas motorik 2. Perilaku aktif ataupun destruktif 3. Agresif KASUS Seorang laki-laki berusia 32 tahun, 3 hari yang lalu dibawa ke unit gawat darurat RS, dengan doagnosa medis axis 1:F20, riwayat masuk sumur karena disuruh oleh suara yang didengarnya. Saat ini pasien masih sering tampak berbicara sendiri. Saat pengkajian pada keluarga. Keluarga mengatakan bahwa dirumah pasien sering pergi tanpa tujuan. Pasien mengalami perubahan perilaku tersebut sejak 2 tahun yang lalu dan pernah dirawat sebelumnya 1x dengan gejala yang sama. Kekambuhan kali ini karena putus minum obat. PROBLEM DEFINITION a. Data Objectif 1. Sering tampak berbicara sendiri 2. Riwayat masuk sumur karena disuruh oleh suara yang didengarkannya 3. Putus minum obat 4. Diagnosa medis axis 1:F20 5. Kekambuhan/Riwayat kekambuhan 6. Pasien mengalami perubahan perilaku sejak 2 tahun yang lalu dan pernah dirawat sebelumnya 1x dengan gejala yang sama. b. Data Subjectif 1. Keluarga mengatakan dirumah pasien sering pergi tanpa tujuan 2. 3 hari yang lalu dibawa ke unit gawat darurat RS LEARNING OBJECTIVE 1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi data senjang. 2. Mahasiswa mampu menganalisis masalah sesuai rumusan masalah. 3. Mahasiswa mampu mengkatagorikan data subjectif dan data objectif. 4. Mahasiswa mampu membuat diagnose keperawatan. 5. Mahasiswa mampu melengkapi data yang belum ada menurut NANDA, NIC & NOC. 6. Mahasiswa mampu membuat prioritas diagnosa keperawatan. 7. Mahasiswa mampu membuat intervensi 8. Mahasiswa mampu membuat implementasi 9. Mahasiswa mampu mengevaluasi. ANALISIS DATA
POHON MASALAH ![]() RESIKO BUNUH DIRI
ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI KETIDAKEFEKTIFAN MANAGEMENT KESEHATAN DIRI PRIORITAS MASALAH 1. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran INTERVENSI
IMPLEMENTASI
EVALUASI
DAFTAR PUSTAKA 1. Boyd dan Nihart. 1998. Psichiatric Nursing & Contenporary Practice . I Edition . Lippincot . Philadelphia . 2. Carpenito , Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan . EGC. Jakarta . 3. Schultz dan Videback. 1998. Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5 th Edition . Lippincott. Philadelphia . 4. Keliat , Budi Anna. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa . EGC. Jakarta. 5. Stuart dan sundeen . 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa . Edisi 3. EGC.Jakarta . 6. Townsend . 1995. Nursing Diagnosis In Psychiatric Nursing a Pocket Guide For Care Plan Construction . Edisi 3 . EGC. Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
About Me
Entri Populer
Labels
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||


