Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan

AYAT KESEHATAN JIWA

0 komentar

Di dalam Al-Qur’an sebagai dasar dan sumber ajaran islam banyak ditemui ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai hal yang prinsipil dalam kesehatan mental. Ayat-ayat tersebut adalah:
لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ
Artinya: Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka  seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (keadaan nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. 3: 164)
Dalam hadits Rasulullah dijelaskan juga yaitu:
Artinya: Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah bertugas untuk menyempurnakan kemulian Akhlak manusia.
Dengan kejelasan ayat Al-Qur’an dan hadits diatas dapat ditegaskan bahwa kesehatan mental (shihiyat al nafs) dalam arti yang luas adalah tujuan dari risalah Nabi Muhammad SAW diangkat jadi rasul Allah SWT, karena asas, cirri, karakteristik dan sifat dari orang yang bermental itu terkandung dalam misi dan tujuan risalahnya. Dan juga dalam hal ini al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk, obat, rahmat dan mu’jizat (pengajaran) bagi kehidupan jiwa manusia dalam menuju kebahagian dan peningkatan kualitasnya sebagai mana yang ditegaskan dalam ayat berikut:
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang  ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran: 104)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang yang mengajak kepada kebaikan,menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kapada yang mungkar. Keimanan,katqwaan,amal saleh,berbuat yang makruf, dan menjauhi perbuatan keji dan mungkar faktor yang penting dalam usaha pembinaan kesehatan mental.
Artinya: Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Fath: 4)
Ayat di atas menerangkan bahwa Allah mensifati diriNya bahwa Dia-lah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana yang dapat memberikan ketenangan jiwa ke dalam hati orang yang beriman.
Artinya: Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu´min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Isra: 9)
Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S. Al-Isra: 82)
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yunus: 57)
Berdasarkan kejelasan keterangan ayat-ayat Al-Qur’an diatas, maka dapat dikatakan bahwa semua misi dan tujuan dari ajaran Al-Qur’an (islam) yang berintikan kepada akidah, ibadah, syariat, akhlak dan muamalata adalah bertujuan dan berperan bagi pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan berbahagia.
Islam memiliki konsep tersendiri dan khas tentang kesehatan mental. Pandangan islam tentang kesehatan jiwa berdasarkan atas prinsip keagamaan dan pemikiran falsafat yang terdapat dalam ajaran-ajaran islam.
Adapun al-Ghazali mengistilahkan kesehatan  jiwa itu dengan tazkiyat al nafs yang artinya identik dengan iman dan takwa sebagai yang telah dijelaskan. Ia mengartikan tazkiyat al nafs itu dengan ilmu penyakit jiwa dan sebab musababnya, serta ilmu tentang pembinaan dan pengembangan hidup kejiwaan manusia, suatu pengertian yang identik dengan kesehatan jiwa. Pengertian tersebut tidak terbatas pada konsepnya pada gangguan dan penyakit kejiwaan serta perawatan dan pengobatannya, tetapi juga meliputi pembinaan dan pengembangan jiwa manusia setinggi mungkin menuju kesehatan dan kesempurnaannya sesuai dengan arti kata tazkiyat itu sendiri dalam pendidikan al-Qur’an berikut:
Artinya: demi jiwa dan kesempurnaan (ciptaan)-Nya. Allah menghilangkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang melakukan proses tazkiyah (pembinaan takwa) dalam dirinya, sebaliknya merugilah orang-orang yang mengotori jiwa (mengikuti hawa nafsu dalam pembinaan jiwanya) atau tadsiyat al naf s. (Q.S. Asy Syamsu: 7-10)
Dari keterangan ayat diatas dapat pula diambil suatu pedoman bahwa tujuan dari pembinaan dan pengembangan jiwa itu dalam islam adalah untuk mewujudkan kondisi kesehatan jiwa yang baik. (al-falah) yang diperoleh melalui pendidikan tazkiyah atau pembinaan potensi jiwa takwa dalam diri. Sehingga jiwa muthmainnah menyempurnakan kehidupan mental manusia, dan inilah tujuan yang paling tinggi dari usaha pembinaan dan pengembangan kesehatan jiwa dalam Islam yang harus dicapai oleh setiap muslim muslimah.

Read On

LAPORAN PENDAHULUAN : HARGA DIRI RENDAH

0 komentar
A. Masalah Utama
Gangguan konsep diri : harga diri rendah

B.  Proses Terjadinya Masalah

1.      Pengertian
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara :
a.      Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).
Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah, karena :
  Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perneal).
  Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/ sakit/ penyakit.
  Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan.
b.      Kronik
Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/ dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.

2.      Tanda dan Gejala

Menurut Carpenito, L.J (1998 : 352); Keliat, B.A (1994 : 20)
a.  Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker
b.   Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri.
c.    Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa
d.  Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.
e.  Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan.
f.    Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

3.      Akibat
Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi sosial : menarik diri, isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang maladaptive, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (DEPKES RI, 1998 : 336).

Data Subyektif :
a.       Mengungkapkan untuk memulai hubungan/ pembicaraan
b.      Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain
c.       Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain

Data Obyektif :
a.       Kurang spontan ketika diajak bicara
b.      Apatis
c.       Ekspresi wajah kosong
d.      Menurun atau tidak adanya komunikasi verbal
e.       Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara

C.          Masalah dan Data yang Perlu Dikaji

No
Masalah Keperawatan
Data Subyektif

Data Obyektif

1
Masalah utama : Gangguan konsep diri : harga diri rendah
-   Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya
-   Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli
-   Mengungkpakan tidak bisa apa-apa
-   Mengungkapkan dirinya tidak berguna
-   Mengkritik diri sendiri
-   Merusak diri sendiri
-   Merusak orang lain
-   Menarik diri dari hubungan sosial
-   Tampak mudah tersinggung
-   Tidak mau makan dan tidak tidur
2
MK : Penyebab Tidak efektifnya koping individu
-   Mengungkapkan ketidakmampuan dan meminta bantuan orang lain
-   Mengungkapkan malu dan tidak bisa bila diajak melakukan sesuatu
-   Tampak ketergantungan pada orang lain
-   Tampak sedih dan tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan
-   Wajah tampak murung
3
MK : Akibat Isolasi sosial : menarik diri
-   Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi
-   Mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain
-   Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain
-   Ekspresi wajah kosong
-   Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara
-   Suara pelan dan tidak jelas

D.          Pohon Masalah

Isolasi sosial : menarik diri
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
Koping individu tidak efektif

E. Diagnosa Keperawatan

a.       Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah
b.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif
Read On

HALUSINASI PENDENGARAN

0 komentar
I.     MASALAH UTAMA 

Gangguan persepsi sensori: Halusinasi Pendengaran

II. PROSES TERJADINYA MASALAH

1.    PENGERTIAN
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007).


2.    Tanda dan gejala 
Perilaku pasien yang teramati adalah sebagai berikut
a.         Melirikkan mata ke kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang berbicara.
b.         Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang tidak sedang berbicara atau kepada benda mati seperti mebel, tembok dll.
c.         Terlibat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak.
d.        Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara.

3.    Penyebab :
a.         Isolasi sosial menarik diri

                         i.     Pengertian 
Menarik diri merupakan gangguan dengan menarik diri dari orang lain yang di tandai dengan isolasi diri (menarik diri) dan perawatan diri yang kurang.
                       ii.     Penyebab

1.    Perkembangan 
Sentuhan, perhatian, kehangatan dari keluarga yang mengakibatkan individu menyendiri, kemampuan berhubungan dengan klien tidak adekuat yang berakhir dengan menarik diri.
2.    Harga diri rendah

                     iii.          Tanda dan gejala 
Tanda gejala menarik diri dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain
1.    Aspek fisik
a.    Penampilan diri kurang.
b.    Tidur kurang.
c.    Keberanian kurang.
2.    Aspek emosi
a.    Bicara tidak jelas.
b.    Merasa malu.
c.    Mudah panik.
3.    Aspek sosial
a.    Duduk menyendiri
b.    Tampak melamun
c.    Tidak perduli lingkungan
d.   Menghindar dari orang lain
e.    Aspek intelektual
f.     Merasa putus asa

g.    Kurang percaya diri

4.    Akibat
a.     Resiko mencederai orang lain dan diri sendiri

                   i.      Pengertian 
Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya maupun orang lain di sekitarnya (Town send, 1994)
                 ii.      Penyebab
1.      Halusinasi
2.      Delusi
               iii.      Tanda dan gejala
1.      Adanya peningkatan aktifitas motorik
2.      Perilaku aktif ataupun destruktif
3.      Agresif

 
KASUS
Seorang laki-laki berusia 32 tahun, 3 hari yang lalu dibawa ke unit gawat darurat RS, dengan doagnosa medis axis 1:F20, riwayat masuk sumur karena disuruh oleh suara yang didengarnya. Saat ini pasien masih sering tampak berbicara sendiri. Saat pengkajian pada keluarga. Keluarga mengatakan bahwa dirumah pasien sering pergi tanpa tujuan. Pasien mengalami perubahan perilaku tersebut sejak 2 tahun yang lalu dan pernah dirawat sebelumnya 1x dengan gejala yang sama. Kekambuhan kali ini karena putus minum obat.

PROBLEM DEFINITION

a.      Data Objectif
1.         Sering tampak berbicara sendiri
2.         Riwayat masuk sumur karena disuruh oleh suara yang didengarkannya
3.         Putus minum obat
4.         Diagnosa medis axis 1:F20
5.         Kekambuhan/Riwayat kekambuhan
6.         Pasien mengalami perubahan perilaku sejak 2 tahun yang lalu dan pernah dirawat sebelumnya 1x dengan gejala yang sama.

b.      Data Subjectif
1.      Keluarga mengatakan dirumah pasien sering pergi tanpa tujuan
2.      3 hari yang lalu dibawa ke unit gawat darurat RS

LEARNING OBJECTIVE
1.      Mahasiswa mampu mengidentifikasi data senjang.
2.      Mahasiswa mampu menganalisis masalah sesuai rumusan masalah.
3.      Mahasiswa mampu mengkatagorikan data subjectif dan data objectif.
4.      Mahasiswa mampu membuat diagnose keperawatan.
5.      Mahasiswa mampu melengkapi data yang belum ada menurut NANDA, NIC & NOC.
6.      Mahasiswa mampu membuat prioritas diagnosa keperawatan.
7.      Mahasiswa mampu membuat intervensi
8.      Mahasiswa mampu membuat implementasi
9.      Mahasiswa mampu mengevaluasi.






ANALISIS DATA
DATA
RUMUSAN MASALAH
DO :
1.      Sering tampak berbicara sendiri
2.      Riwayat masuk sumur karena disuruh oleh suara yang didengarkannya
6.      Pasien mengalami perubahan perilaku sejak 2 tahun yang lalu dan pernah dirawat sebelumnya 1x dengan gejala yang sama.

DS :
1.    Keluarga mengatakan dirumah pasien sering pergi tanpa tujuan




GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI PENDENGARAN
DO :
2.      Riwayat masuk sumur karena disuruh oleh suara yang didengarkannya

DS : -



RESIKO BUNUH DIRI
DO :
3.      Putus minum obat
5.      Kekambuhan/Riwayat kekambuhan

DS :
2.        3 hari yang lalu dibawa ke unit gawat darurat RS


KETIDAKEFEKTIFAN  MANAGEMENT KESEHATAN DIRI

POHON MASALAH

RESIKO BUNUH DIRI





Text Box: GSP : HALUSINASI PENDENGARAN



 




ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI

 

KETIDAKEFEKTIFAN MANAGEMENT KESEHATAN DIRI


PRIORITAS MASALAH
1.      Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran

INTERVENSI

DIAGNOSA KEPERAWATAN


PERENCANAAN


GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI PENDENGARAN

Tujuan Utama :
      -          GSP
Kriteria :
     -          Klien mampu mengontrol halusinasi


 UNTUK PASIEN
TUJUAN :
                     i.     Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
                     ii.     Pasien dapat mengontrol halusinasinya
                   iii.     Pasien mengikuti program pengobatan sercara optimal

Tindakan Keperawatan :

     1.      Bina hubungan saling percaya :
a.       Awali pertemuan dengan ucapan salam
b.      Perkenalan nama lengkap perawat, panggilan untuk perawat,menanyakan nama pasien dan suka dipanggil apa
c.       Buat kontrak kegiatan
d.      Hadirkan sikap terapeutik

     2.      Kaji Halusinasi :
a.       Indentifikasi Isi halusinasi pasien
b.       Indentifikasi Jenis halusinasi pasien
c.       Indentifikasi waktu halusianasi pasien
d.      Indentifikasi Frekuensi halusinasi pasien
e.       Indentifikasi Stresor halusinasi pasien
f.        Indentifikasi Respon halusinasi pasien

     3.      Kenalkan masalah halusinasi pasien

     4.      Ajarkan cara mengotrol halusinasi :
a.    Menghardik halusinasi
b.   Cakap-cakap dengan orang lain
c.    Lakukan aktivitas ysng terjadwal
d.   Patuh minum obat

 UNTUK KELUARGA
TUJUAN :
Keluarga dapat merawat pasien dirumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif

Tindakan Keperawatan :
1.      Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2.      Jelaskan tentang halusinasi yang terjadi pada pasien,meliputi :
a.    Pengertian halusinasi
b.    Jenis halusinasi yang dialami pasien
c.    Tanda dan gejala halusinasi
d.   Proses terjadinya halusinasi
e.    Cara merawat pasien halusinasi
f.     Program pengobatan
3.      Jelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi
4.      Latih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien halusinasi
5.      Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat (discharge planning)
6.      Diskusikan dengan keluarga tentang program pengobatan
a.    Jelaskan cara menggunakan  obat meliputi prinsip 5 benar.
b.    Jelaskan efek samping obat yang mungkin akn terjadi dan cara mengatasi,pentingnya/manfaat penggunaan obat pada gangguan jiwa,dan akibat bila obat tidak digunakansesuai program/putus obat.
c.    Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
d.   Peran keluaraga dalam program pengobatan
7.      Jelaskan follow up pasien setelah pulang :
a.    Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat.
b.    Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapat melakuakan kegiatan tersebut secara tepat.
c.    Diskusikan bersama keluaraga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukan gejala-gejala perilaku halusinasi.
d.   Jelaskan sumber-sumber pelayanan kesehatan yang bisa dijangkau dan kondisi pasien yang membutuhkan perawatan segera.

IMPLEMENTASI

DIAGNOSA KEPERAWATAN


PERENCANAAN


GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI PENDENGARAN

Tanggal  : 4 April 2012
Jam          : 09.00 WIB

Tindakan Keperawatan :

1.      Membina hubungan saling percaya :
a.       Mengawali pertemuan dengan ucapan salam
b.      Memperkenalkan nama lengkap perawat,panggilan untuk perawat,menanyakan nama pasien, dan pasien suka dipanggil apa
c.       Membuat kontrak kegiatan
d.      Menghadirkan sikap terapeutik

2.      Mengkaji Halusinasi :
a.        Mengidentifikasi Isi halusinasi pasien
b.       Mengindentifikasi Jenis halusinasi pasien
c.       Mengindentifikasi waktu halusianasi pasien
d.      Mengindentifikasi Frekuensi halusinasi pasien
e.       Mengindentifikasi Stresor halusinasi pasien
f.        Mengindentifikasi Respon halusinasi pasien

3.      Mengenalkan masalah halusinasi pasien

4.      Mengajarkan cara mengotrol halusinasi :
a.       Menghardik halusinasi

Tanggal : 14 April 2012
Jam        : 15.00

Tindakan Keperawatan :

1.      Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien

2.      Menjelaskan tentang halusinasi yang terjadi pada pasien,meliputi :
a.       Pengertian halusinasi
b.      Jenis halusinasi yang dialami pasien
c.       Tanda dan gejala halusinasi
d.      Proses terjadinya halusinasi
e.       Cara merawat pasien halusinasi
f.       Program pengobatan
3.      Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi

4.      Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien halusinasi

5.      Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat (discharge planning)

6.      Mendiskusikan dengan keluarga tentang program pengobatan :
a.    Menjelaskan cara menggunakan  obat meliputi prinsip 5 benar.
b.    Menjelaskan efek samping obat yang mungkin akn terjadi dan cara mengatasi,pentingnya/manfaat penggunaan obat pada gangguan jiwa,dan akibat bila obat tidak digunakansesuai program/putus obat.
c.    Menjelaskan cara mendapatkan obat/berobat
d.   Peran keluaraga dalam program pengobatan

7.      Menjelaskan follow up pasien setelah pulang :
a.    Menganjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat.
b.    Mengajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapat melakuakan kegiatan tersebut secara tepat.
c.    Mendiskusikan bersama keluaraga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukan gejala-gejala perilaku halusinasi.
d.   Menjelaskan sumber-sumber pelayanan kesehatan yang bisa dijangkau dan kondisi pasien yang membutuhkan perawatan segera.








EVALUASI
DIAGNOSA KEPERAWATAN
EVALUASI (SOAP)
GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI PENDENGARAN
S :
-          Klien mengatakan suara-suara yang di dengarkan sudah mulai berkurang.
-          Klien mengatakan akan menghardik jika suara itu datang
O:
-          Klien tampak tenang dan tidak berbicara sendiri.
-          Klien bias mempraktekkan kembali atau mengulangi cara menghardik denganb enar
A:
-          Pasien masih mengalami halusinasi
P:
Perawat:   Ajarkan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap
Klien:   Anjurkan klien untuk mempraktekkan cara menghardik setiap jam 9.00 dan 15.00














DAFTAR PUSTAKA
1.        Boyd dan Nihart. 1998. Psichiatric Nursing & Contenporary Practice . I Edition . Lippincot . Philadelphia .
2.        Carpenito , Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan . EGC. Jakarta .
3.        Schultz dan Videback. 1998. Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5 th Edition . Lippincott. Philadelphia .
4.        Keliat , Budi Anna. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa . EGC. Jakarta.
5.        Stuart dan sundeen . 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa . Edisi 3. EGC.Jakarta .
6.        Townsend . 1995. Nursing Diagnosis In Psychiatric Nursing a Pocket Guide For Care Plan Construction . Edisi 3 . EGC. Jakarta.

Read On